04 juni 2009

Deear di,

Hy di hari ini saya akan membahas kejadian kemarin hari.

Seperti biasa hari saya diisi dengan membaca komik yang saya sukai itu. Di hari ini saya duh yang kuingat hanya pelajaran reading dan pelajaran etika profesi.

Ya kagak apalah. Di pas pelajaran hari ini khusus pelajaran reading ternyata bapak Ramlan masih sakit jadi beliau belum bisa masuk kedalam kelas. Oleh karena itu, kawan-kawan dan saya malas-malasan di perpus. Saya sih asyik baca komik. Di saya lihat dengan jelas dia hanya baca sebuah buku lucu yang berada di beranda no 03. dia cekikikan sendiri, sebenarnya sih dia menahan tawa nya yang sebenarnya pasti membahana membelah seluruh ruangan ini dengan tawanya. Saya hanya memperhatikan dia.

Pas pelajaran etika profesi saya diberitahu tentang cerita tukang tambak ikan yang sukses yang mencari kepala security dengan imbalan yang sangat menggiurkan. Dengan satu syarat yaitu orang itu harus mau menyeberangi tambak yang berisi buaya, hiu dan hewan buas lainnya. Setelah ditunggu beberapa lama tidak ada yang berani melakukan hal itu, karena hal itu sama saja kita bunuh diri. Setelah kira-kira dua jam barulah ada yang melompat ke tambak dan mulai berenang dengan cepat dia mempertaruhkan nyawanya untuk pekerjaan itu. Pas dia sampai di sisi lainnya dia langsung di salami oleh sang empunya tambak tapi ternyata orang ini tidak mau menjadi kepala security. Sang empu menambah jumlah harta yang akan diberikan tapi tetap saja dia tidak ingin menduduki kursi kepala security. Walau cucuran darah masih menetes dari sekujur tubuhnya. Akhirnya dia menyatakan apa yang diingankannya dan sang empu tambak.

Dengan tegas ia berkata “ Aku hanya ingin tahu siapa orang yang telah mendorong saya jatuh ketambak”.

Kami semua tertawa terbahak-bahak .

Sore hari saya piket dan ya agak malas gitu deh. Tapi waktu melihatnya akan piket tidak tahu saya merasa seneng banget. Dalam hatiku bicara walau bintang atau seluruh bintang jatuh keatas kepalaku aku rela memberikan nya untuknya. Ternyata ruangan yang mau dia piketin masih ada yang pakai jadi dia belum piket. Saya menemaninya dan menawarkannya buku cerpen yang bagus menurut saya, tapi dia tolak. Entah mengapa rasa senang ini membahana dalam jiwa saya hari ini.

Yah sejauh yang saya ingat hanya itu.

Terus hari ini. Hari dimana seluruh karsa menjadi satu dalam keinginan yang aku harapkan. Hari dimana matahari masih bersinar seperti biasa. Saya langsung melesat ke kampus ketika itu aku hanya merasa menjadi seperti ini. Wah aku keganggu dengan acara game di sebelah nih jadi kagak bisa konsentrasi. Tapi ya sudahlah.

Sore hari yang paling saya ingat yaitu ketika saya baru keluar dari pelajaran MA. Dia menanyakan cerita cerpen kemarin. Walau itu hanya sekadar seperti itu tapi saya pikir ini awal saya bisa dekat dengannya. Sore itu kami pergi kerumah bapak adi dan mengobrol panjang dari a sampai z.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: